Lika-Liku Persahabatan
Oleh: Delita Amanda
Di sebuah desa terpencil, hembusan angin yang menyejukan hati, matahari
yang tampak bulat yang tidak berselimut karbon dioksida. Sepi sunyi jalanan di
sini, Tampak seorang gadis desa yang memakai rok biru, sedang berdiri di depan
rumah menunggu ayah dan ibunya untuk berangkat ke sekolah. Waktu berjalan
hingga pukul 06.30 akhirnya gadis itu
berangkat ke sekolahnya. Sesampai di sekolah dia bertemu dengan dua anak yang
sedang ngobrol di pinggir lapangan basket dan ibunya menghampiri kedua anak itu
sambil bertanya.
“ Permisi, ade ini di kelas apa?” kata ibuku.
“ Saya di kelas 7A dan kalau saya di
kelas 7G” mereka menjawab dengan sedikit malu-malu.
Ibuku saat itu langsung spontan menjawab.“ Oh, brarti ade sama seperti anak
ibu, anak ibu di kelas 7G entar sekalian bareng. Ohya kenalin ini Adel kalo mba
ini siapa namanya?” ibuku ketika bawel bertanya.
“ Saya Caca dan saya Tiyas” mereka memperkenalkan diri bergantian.
Awalnya aku sempet males berkenalan seperti itu, tapi daripada aku engga
ada temen untuk ke kelas akhirnya aku menuruti kata ibuku untuk bergabung.
Karena ibuku waktu itu sedang ada acara jadi aku dititipin sama kedua anak itu
untuk ditemenin.
“ Ibu boleh nitip Adel sebentar ya soalnya ibu lagi ada urusan” kata ibuku
yang sedang tergesa-gesa.
“ Ohiya Bu,,,,, boleh kok.” kata anak itu.
Akhirnya ibuku langsung pergi meninggalkan aku dengan kedua anak itu.
Awalnya aku dan kedua anak itu masih malu-malu buat mulai ngomong duluan,
yaudah akhirnya kami diem-dieman engga jelas.
Setelah kami sudah beberapa bulan sekolah di Spensaa, kami bertiga menjadi
sahabat yang kita namai dengan Delincha. Kami ini bukan Geng tetapi kami adalah
anak-anak yang selalu kemana-mana bareng, asik-asikan bareng, bercandaan bareng,
dan menghibur satu sama lain. Aku sama Tiyas satu kelas dan juga satu meja
hingga kelas 9 sekarang ini. Tetapi ketika kelas 8 kami bertiga hubungannya
lumayan renggang karena kesalah fahaman akhirnya aku sama Tiyas sudah tidak
satu bangku lagi. Aku satu bangku dengan Dewi dan Tiyas satu bangku dengan
Dhita. Beberapa minggu kami bertiga tidak pernah ngasih kabar, kontakan dan
yang lebih parah kami tidak pernah menyapa seperti anak yang tidak pernah kenal
sama sekali dan kami sering banget sindir-sindiran satu sama lain dari mulai di
sosmed atau juga di sekolah saat istirahat.
Kami kaya gini gara-gara kesalah fahaman diantara kami disebabkan oleh aku
yang sekarang kemana-kemana sama Dewi, foto-foto sama Dewi dan main kemanapun
pasti sama Dewi jadi mereka anggap aku sudah tidak membutuhkan mereka sebagai
sahabat kaya dulu dan mereka kira aku sudah cuek dan tidak pernah perduli
dengan mereka. Sampai-sampai mereka mengepost di sosmed.
Dari : Stranger
MELEK DEL! Seiring berjalannya waktu, lu bisa tau mana temen sejati lu yang
sebernernya:)
HUFTTT...!!! aku mendengus kesal saat tau mereka ngepost di sosmed seperti
itu. Aku awalnya positif thinking dengan mereka tetapi mereka terus-menerus
ngepost kata-kata yang aku tau itu pasti buat aku.
Keesokan harinya, aku berangkat kesekolah dengan penuh kesal yang aku tahan
tadi malam. kring.... kring.... bel masuk berbunyi, akhirnya aku mengikuti
pelajaran dengan perasaan canggung, kesal, bad mood yaaa pokoknya campur aduk
lah saat itu. Saat bel istirahat berbunyi, aku, Dewi, dan Zahra pergi ke kantin
dan sepulang dari kantin saat kami berjalan bertiga, di depan kelas kami ada
Tiyas, Cacha, dan Dhita dan mereka langsung bercakap-cakap dengan nada yang
tidak sewajarnya. Dan salah satu dari mereka menyindir aku yang sedang berjalan
di depan mereka.
“ kita kan best friend forever yah....????” kata mereka dengan nada
menyindir.
Aku pun mempercepat langkahku dan berpura-pura engga perduli dengan
perkataan mereka barusan. Besoknya mereka masih tetap memojoki aku dan mereka
anggap ini semua kesalahan aku sepenuhnya karena aku terlalu dekat dengan Dewi.
Tetapi aku fikir, aku juga berhak marah karena mereka juga deket sama anak yang
aku engga suka sama sekali. Caca dan Tiyas juga kemana-kemana sama cewe yang
aku engga suka . Engga tau kenapa aku sampai punya perasaan engga suka ke cewe
itu padahal aku engga kenal kaya gimana sifat dia.
Hari demi hari aku lewati tanpa kedua sahabatku itu. Awalnya aku engga
nanggepi semua sindiran yang mereka kasih ke aku, tetapi aku memberanikan diri
untuk minta maaf ke mereka yaa walaupun masih lewat whatsApp engga secara
langsung. Pertama aku chat ke Tiyas dan dia engga bales omongan panjang lebar
aku dia cuma baca aja, kedua aku juga nge chat ke Caca, sama dia di bales sih,,
tapi dia Cuma bales ‘ya’ doang. Awalnya aku pasrah tetapi aku juga udah minta
maaf dan itu juga terserah mereka mau maafin aku apa engga.
Ketika pulang sekolah, aku dipanggil mereka berdua yang berjalan mendekati
aku.
“Del!!...” mereka memanggilku dengan muka sedikit beda dari biasanya.
“Iya Ca, Yas. Ada apa?” mukaku yang datar menanggapi mereka.
“Aku pengin ngomong sama kamu,,” kata Caca
“ohyaudah, boleh kok dimana?.” aku mengulangi dengan memasang muka datar di
depan mereka.
Kami mencari tempat untuk membicarakan masalah kami akhir-akhir ini.
Akhirnya kami menemukan tempat yang pas untuk kami bertiga ngobrol yaitu di
depan ruang kelas 7. Kami bertiga awalnya masih diem-dieman tapi akhirnya Caca
memulai pembicaraan.
“Del... kamu lagi kenapa akhir-akhir ini?” tanya Caca yang matanya mulai
berair.
“iya Del, kamu lagi kenapa? Kamu akhir-akhir ini udah beda engga kaya dulu
lagi? Kamu sekarang udah jauh sama kita ya Ca, kamu sekarang udah deket sama
yang lain. Kemana-mana sama temen barumu terus.” Tiyas yang langsung
melanjutkan omongan Caca.
Aku yang mau menjawab omongan mereka tetapi mereka langsung menetesekan air
mata. Aku sebenernya merasa bersalah sama mereka karena dengan sikapku
akhir-akhir ini yang udah jauh sama mereka dan cuek. Lama-lama aku juga mulai
berair matanya. Caca pun terus berbicara bersamaan dengan menangis di depanku.
“Del, kamu udah beda engga kaya dulu lagi, aku pengin kita kaya dulu lagi
waktu kelas 7 yang kemana- mana selalu bareng dan kita juga pasti punya banyak
waktu buat kumpul bareng kaya gini, tapi kenapa sekarang susah banget cari
waktu buat kumpul bareng, pasti kalo kita kumpul kita nangis kaya gini, bukannya
seneng-seneng.” Omongan Caca yang membuat aku nangis.
“Maaf Ca, Yas, kalo aku akhir-akhir ini beda tapi aku deket sama temenku
sekarang karena kalian udah sibuk dengan eskul kalian akhir-akhir ini, kalo aku
pengin curhat aku takut ganggu kalian berdua. Dan kalo aku pengin kumpul sama
kalian aku engga enak soalnya kalian selalu kumpul sama temen-temen eskul
kalian.” Aku pun mengehela nafas, yang sedikit sesak karena berbicara sambil
menangis.
“tapi Del, kamu tau engga aku di kelas udah banyak yang nyuekin aku, Cuma
Dhita yang care sama aku di kelas. Kamu sendiri aja udah beda ke aku dan gabung
sama temen-temen di kelas. Kalo aku ikut-ikut kalian mungkin aku juga
lebih-lebih dicuekin. Jadi, aku kadang kalo istirahat langsung keluar sama
Dhita dan kumpul-kumpul sama temen yang beda kelas yang pasti lebih perduli.”
Tiyas yang terus menangis dengan muka yang memerah.
“Okeh, ini semua emang salah aku kok, aku minta maaf mungkin kalo aku engga terlalu deket sama
Dewi kita engga bakal ada masalah kaya gini. Maaf Yas, Ca?” aku meminta maaf
dengan berharap mereka memaafkan aku.
“Kita engga nglarang kamu main sama siapa aja Del, kamu terserah kok mau
main sama siapa aja tapi jangan pernah lupain kita ya Ca, kita juga udah
berusaha nyari waktu buat kamu Del, buat kumpul kaya gini” kata lintang yang
sedang memandang aku.
“Iya Yas, Ca aku ngerti kok, aku udah bisa ngerti sama kesibukan kalian.
aku minta maaf yaaa....... maaf bangettt” aku yang masih berharap dimaafkan
oleh mereka berdua.
“iya Del, kami juga minta maaf udah ngepost sindiran apapun di sosmed buat
kamu.” Muka Caca dan Tiyas yang berubah cerah dan mulai senyum-senyum.
“iya kok engga papa....” akupun yang melihat wajah mereka dengan muka
bingung tapi akhirnya aku ikut senyum juga hehe.
Akhirnya, kami bertiga baikan dengan semua kesalah fahaman yang sudah
terjadi. Dan kami menjadi sahabat hingga saat ini.
Mencari sahabat sejati engga mungkin mudah, dan membuat persahabatan itu
selalu harmonis dan tidak ada masalah itu juga sulit karena persahabatan yang
lama pasti banyak masalah dan bisa menyelesaikan masalah itu dengan keterbukaan
satu sama lain.
Repost: Delita Amanda






0 komentar:
Posting Komentar